Finally i can write again. it was hard time for me to get my mind willing to write again.
Indonesia 2015 sedang menghadapi masa-masa transisi sampai 2018. Blok Mahakam sudah ditangan Pertamina sepenuhnaya Januari 2018. Dalam upaya menjaga kestabilan produksi, maka pemerintah menjamin bahwa pegawai Total E&P dan Inpex Corporation tidak akan dipecat, seperti yang dikutip oleh finance.detik.com, "Pemerintah berkomitmen untuk mengambil seluruh pekerja di Blok Mahakam, tidak ada PHK dan menjaga remunerasi. Sehingga tidak harus ada karyawan yang memilih keluar. Ini untuk menjaga kelangsungan produksi juga, itu penting. "
Ada banyak alasan mengapa pemerintah tidak melakukan PHK pekerja lama. Salah satunya karena pengalaman. Dahulu pernah ada transisi dari ONWJ dari BP ke Pertamina yang berjalan sukses dan mulus. ya tidak ada masalah disini.
Tapi cobalah untuk melihat kedepan, mengapa Indonesia selalu takut untuk mendapatkan tantangan? saya masih teringat akan perkataan pak Dahlan ketika dia menjadi Menteri BUMN dahulu. Intinya Beliau sangat mempercayakan sumur-sumur Indonesia, terutama sumur-sumur tua yang notabene susah untuk diproduksi lagi kepada pemuda pemuda Indonesia. Kalau tidak salah namanya Brigadir 200. Berbeda dengan sekarang, sepertinya Indonesia mulai kembali lagi menjadi negara yang kurang percaya akan kemampuan pemudanya. Apa karena pergantian kepala negara? Entahlah. Tapi jikalau begitu, sebaiknya Pemerintah beri penjelasan kepada kita semua, warga Indonesia untuk tahu apa alasan sebenarnya. Apa sebenarnya rencana Pemerintah. Apa yang akan mereka lakukan. dan ada apa sebenarnya ? kita tunggu janji transparansi yang pemerintah janjikan.
Sebenarnya saya sudah dapat sedikit gambaran apa yang akan terjadi di tahun-tahun kedepannya. Hal ini saya dapat dari website bandungscenarios2030.com yang saya tahu websitenya dari anggota komisi VII DPR RI saat ada short class migas di kampus saya. Beliau menyatakan bahwa ada 4 kondisi yang bisa Indonesia hadapi di 2030 terkait industri migas di Indonesia. Sekurang-kurangnya ada 4 skenario yang bakal dihadapi, yaitu Ombak, Badai, Batu Karang, dan Awak Kapal.
Secara garis besar, keempat skenario hanyalah efek timbal balik dari apa yang dilakukan oleh pemerintahan saat ini. Bukanlah step-step yang harus dilakukan untuk mencapai hal tersebut (berbentuk program kerja atau sebagainya). Disamping itu, kedepannya Indonesia haruslah menjadi Negara yang lebih berfokus pada unconventional and renewable enegy development. Sumber panas bumi, air, angin, biogas, biofuel dan lain-lain.
Nasib Migas Indoensia lalu bagaimana ? entahlah. Sejujurnya jika ada Masterplan yang berbentuk Grand Desaign atau semacamnya terkait Industri Migas kedepannya, mungkin perkembangan migas di Indonesia akan lebih terarah dan berani menghadapi asing. Bila ada, bersyukur saya.
Sungguh Ironis saat di tahun 1950-1980an Indonesia sangat jaya sekali soal migas. Bahkan saat di OPEC (sebelum keluar), Indonesia termasuk negara yang sering "ngeyel" soal peraturan-peraturan yang dibuat, yang dirasa merugikan maka akan ditolak mentah-mentah. Semenjak produksi terus menurun, Indonesia hanya bisa patuh dan bertekuk lutut pada negara-negara yang sebenarnya "tidak" lebih kaya dari Indonesia soal Migas.
Terkait BandungScenarios2030 , harapan saya lebih kepada persiapan kita semua ketika hal tersebut benar-benar datang. Semoga migas Indonesia benar-benar menginjakkan kaki di negara sendiri, sekarang dan selamanya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar